Loading

Jumat, 11 November 2011

Alat Musik Gesek (Bowed Strings)

1. Erhu
ErHu
Erhu (Hanzi: 二胡 er4 hu2) merupakan alat musik tradisional Tiongkok yang paling populer disamping Guzheng dan Dizi. Secara umum, keluarga alat musik gesek ini dikenal juga dengan istilah huqin yang berarti "alat musik orang barbar", dinamakan demikian karena diperkenalkan oleh orang barbar yang berasal dari Asia Tengah.Huqin telah berumur sekitar 500 tahun. Mulai populer pada zaman dinasti Sung (960-1279 AD), yang kemudian berlanjut ke zaman dinasti Ming (1368-1644) dan dinasti Qing (1644-1911) dimana dalam kurun waktu tersebut huqin telah berkembang menjadi bermacam-macam jenis, termasuk yang kita kenal sekarang sebagai erhu. Pada mulanya, erhu menggunakan dua senar yang terbuat dari sutra, tetapi sekarang erhu menggunakan senar dari logam. Erhu biasanya menggunakan membran dari kulit ular piton, tetapi ada juga yang menggunakan bahan lain. Kotak suara dapat berbentuk segi enam, segi delapan, atau bulat. Kotak suara ini juga bervariasi ukurannya, semakin besar ukuran kotak suaranya maka bunyi bass yang dihasilkan semakin besar dan begitu pula sebaliknya.
Erhu digesek dengan busur yang terbuat dari bambu dan rambut ekor kuda, ekor kuda itu ditempatkkan di antara kedua senar sehingga memudahkan perpindahan menggesek antara kedua senar. Rambut ekor kuda tersebut digosok dengan damar (gondorukem) sehingga terasa kesat waktu digesek.









2. JingHu 
JingHu
Jing Hu(京胡; pinyin: jīnghú) adalah alat musik tradisional Tionghoa yang berasal dari keluarga alat musik gesek (HuQin). Alat musik ini memiliki nada yang tertinggi dan terendah dalam keluarga alat musik gesek. Seperti alat musik gesek lainnya, JingHu memiliki busur yang terbuat pula dari bambu ekor kuda dan menyebabkan JingHu sering disalah artikan dengan ErHu apabila dilihat oleh mata seorang pemula. Selain itu, kedua senarnya terbuat dari sutra. Tetapi, karena dianggap cepat putus dan sangat repot untuk diganti, maka kedua senar itu bukan lagi terbuat dari benang sutra melainkan terbuat dari benang baja atau besi. JingHu digunakan untuk meningkatkan suara penyanyi pada setiap orkestra di Beijing. JingHu lebih sering dipakai untuk permainan oktaf daripada permainan melodi. JingHu pernah digunakan oleh band asal Jepang "Do As Infinity" dalam lagu lagu single mereka, Shinjitsu no Uta.







3. Banhu
Banhu
Banhu (板胡, pinyin: bǎnhú) adalah instrumen tradisional Tiongkok yang membungkuk dalam keluarga alat musik gesek Tionghoa. Alat ini digunakan lebih sering digunakan di daratan China Utara. Ban berarti sepotong kayu dan hu adalah singkatan huqin. Seperti Erhu, Banhu memiliki 2 senar yang dibentuk secara vertikal dengan busur yang berada diantara kedua senar tersebut. Banhu dalam segi bentuk dan penerapan bentuk nada sangat berbeda dari Erhu. Perbedaan itu ada pada soundbox, umumnya Banhu terbuat dari tempurung kelapa bukan kayu, dan bukan kulit ular yang menutupi bagian depan kotak soundbox melainkan banhu menggunakan papan kayu tipis. Banhu terkadang-kadang juga disebut "banghu," karena sering digunakan dalam bangzi opera China utara. Seperti Qinqiang dari provinsi Shaanxi. Banhu berbeda dengan yehu yang merupakan jenis lain dari biola China dengan tubuh dan wajah kayu kelapa yang lebih sering digunakan di daratan China Selatan.


















4. Gehu
Gehu
Gehu (革 胡; pinyin: Gehu) merupakan instrumen China yang berkembang pada abad ke-20 oleh musisi China Yang Yusen (杨雨森, 1926-1980). Ini merupakan perpaduan dari keluarga alat musik alat musik gesek China dan cello. Keempat senarnya disetel dengan nada dasar (dari rendah ke tinggi) CGDA, persis seperti cello. Tidak seperti kebanyakan alat musik lainnya dalam keluarga huqin, soundbox untuk Gehu berada disamping bukan di belakang maupun di depan. Ada juga Gehu kontrabas yang berfungsi sebagai double bass, yang dikenal sebagai diyingehu, digehu, atau beigehu (倍 革 胡). Pada akhir abad ke-20, Gehu telah menjadi sebuah instrumen yang sangat langka, bahkan di daratan China sendiri, sebab kulit ular banyak ditemui telah kehilangan keketatan yang menyebabkan suara yang dihasilkan sumbang disertai dengan meningkatnya tingkat kelembaban kulit ular. Saat ini, Gehu banyak digunakan sebagian besar di Hong Kong dan Taiwan, meskipun sudah ada cello yang menjadi pengganti Gehu. Selain itu, ada juga instrumen China lainnya yang mampu mengambil peran dalam mengisi suara bass, contohnya adalah Pipa.

0 komentar:

Poskan Komentar